Baru-baru ini, Hayes Madsen dari RPG Site, merilis pratinjau selama lima jam tentang Assassin's Creed Black Flag Resynced. Yang menarik perhatian saya bukanlah permainan itu sendiri, karena bukan sebuah JRPG seperti yang disebutkan dalam artikel Hayes sebelumnya tentang JRPG dan Strategi Remake, tetapi lebih kepada komponen-komponen individu yang dia sebutkan seperti parry berbasis ritme yang mirip dengan Unity, mekanik grappling hook dari Syndicate, dunia terbuka tunggal yang mulus bukan peta yang tersegmentasi, dan tujuan alternatif yang lebih inovatif. Ada juga evolusi serupa dari semua mekanik ini dalam RPG aksi modern yang mulai tumpang tindih dengan genre JRPG. Apa yang bisa dipelajari pengembang JRPG dari pratinjau ini?
Parry Ritme Kombat — Penggabungan AC dan Action RPG JRPG

Hayes Madsen menjelaskan bagaimana AC Black Flag Resynced memperkenalkan kombinasi dari combat berbasis parry di Unity (2014) dan mekanik grappling hook di Syndicate (2015). Sistem pertempuran ini dianggap berbasis timing, artinya pemain harus mengatur waktu maneuver defensif mereka secara akurat untuk memicu peluang serangan balik. Ini dianggap sebagai langkah maju dari permainan AC asli 2013, yang menampilkan button mashing sebagai bentuk pertempuran yang lebih santai dan kasual.
Ide mekanik parry ritme telah ada dalam action RPG JRPG selama cukup lama. Dalam Tales of Arise (2021), terdapat mekanik timing untuk Boost Attack yang harus digunakan selama animasi serangan musuh. Star Ocean The Second Story R (2023) memiliki sistem yang melibatkan menghindar dengan sempurna dan kemudian melakukan serangan balik. FF VII Rebirth (2024) memiliki serangan sinergi yang bergantung pada timing dan posisi pasangan. AC Resynced adalah judul terbaru dalam seri yang menggunakan model ini — sistem pertempuran yang lebih kompleks yang memberi penghargaan kepada pemain untuk menguasai timing yang baik. Bagi pengembang JRPG, mekanik parry ritme game ini tidak lagi menjadi mode eksperimental pada tahun 2026; itu diharapkan.
Grappling Hook + Traversal — Pelajaran untuk Eksplorasi JRPG
Traviasi vertikal bukanlah hal baru bagi seri ini, karena Syndicate (2015) memiliki mekanik pergerakan vertikal. Namun, pergerakan vertikal memang meningkatkan beberapa judul terbaru dari seri yang lebih berfokus pada pergerakan di darat. Penambahan hook memberikan opsi pergerakan tambahan yang berbasis darat selain pergerakan di laut yang menjadi fokus utama dari Black Flag asli. Madsen Hayes menunjukkan bahwa penambahan hook lebih bersifat gimmick daripada opsi pergerakan yang berdiri sendiri.
Sementara AC Resynced masih beberapa bulan lagi, pemasaran awalnya telah menghasilkan beberapa hype tentang bagaimana seri ini telah mendekati mekanik traversal. Mekanik traversal telah menjadi topik hangat dalam genre JRPG selama beberapa waktu. FF VII Rebirth baru-baru ini mengumumkan penerbangan chocobo yang bergantung pada wilayah dan memberi kemampuan berbeda. Xenoblade Chronicles X juga akan memperkenalkan Kites untuk traversing peta Skell mech yang baru vertikal dalam remasternya yang akan dirilis pada 2026. Tales of Arise memiliki sistem mic camp + sistem perjalanan cepat. Kesimpulan utama dari AC Resynced adalah bahwa opsi pergerakan baru harus terintegrasi dengan desain dunia alih-alih berfungsi hanya sebagai tambahan pada sistem. Desain lingkungan dalam permainan harus terintegrasi dengan opsi pergerakan yang baru ini. Ini adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh game AC daripada hanya menambahkannya sebagai fitur seperti yang dilakukan beberapa JRPG.
Dunia Terbuka Tanpa Hambatan — Sudah Digunakan oleh Xenoblade Sejak 2017
Hayes Madsen menjelaskan bahwa salah satu fitur baru dalam Black Flag Resynced adalah dunia yang tanpa hambatan yang akan menggantikan desain peta yang tersegmentasi dari versi aslinya tahun 2013. Untuk pertama kalinya, tidak akan ada layar muat untuk wilayah yang berbeda, dan pemain akan dapat berlayar dari Havana ke Kingston. Mengingat sejarah waralaba ini dengan game AC berbasis wilayah, ini adalah peningkatan besar.
Dunia tanpa hambatan telah menjadi bagian dari JRPG sejak lama. Pemain dapat menjelajahi seluruh benua sebesar Titan di Xenoblade Chronicles 2 (2017). Ada juga dunia terbuka di Final Fantasy XV (2016) Lucis yang hanya memiliki sedikit layar muat. Xenoblade Chronicles 3 (2022) memiliki dungeon yang merupakan kombinasi sempurna dari dunia tanpa hambatan dan dungeon yang dibuat dengan tangan; namun, apa yang benar-benar membedakan AC Resynced adalah pertempuran lautnya yang besar. Pemain akan dapat melawan kapal lain saat menyeberangi pulau-pulau, dan dalam JRPG, itu adalah skala besar yang belum pernah dilihat sebelumnya. AC Resynced akan menjadi tolok ukur teknis bagi semua pengembang JRPG yang berencana memperluas game dunia terbuka mereka.
Tujuan Quest Alternatif — Evolusi Konten Samping
Hayes Madsen menekankan perlunya desain quest yang lebih kreatif dan memberi contoh salah satu misi yang dulunya berkata "beli lonceng selam dari penjual" dan kini telah dimodifikasi untuk mencakup opsi "mencuri lonceng selam dari musuh atau gudang faksi lain." Pemain dapat memilih opsi cepat dan membelinya (menghabiskan emas) atau opsi lambat yang berupa perampokan diam-diam (ganjaran yang lebih besar adalah lonceng pengemudi). Jenis desain seperti ini menambah kebaruan ulang dan otonomi pemain.
Untuk JRPG, konsep ini sangat relevan. Sistem quest afinitas di Xenoblade Chronicles memungkinkan pemain menghabisi quest dengan berbagai cara. The Witcher 3 (yang telah remaster untuk generasi saat ini) memiliki dilema moral yang menawarkan hasil berbeda. Dalam FF VII Rebirth, ada konten samping alternatif yang substansial berupa mini-game Queen's Blood. JRPG yang ingin berevolusi dari pendekatan "quest ambil dan bunuh X monster" perlu mengadopsi model AC. Ini berarti menawarkan setidaknya 2-3 cara untuk menghabisi setiap quest yang merupakan trade-off bermakna (waktu vs ganjaran, risiko vs kemudahan, percabangan cerita vs konsistensi naratif).
"Spirit of Original" - Filosofi Hayes Madsen yang Menggetarkan dengan Remake JRPG
Pratinjau Hayes Madsen: AC Black Flag Resynced telah memunculkan kutipan paling berkesan yang saya catat: "mampu menangkap semangat pemberontakan dari game asli, tetapi tidak takut untuk mengubah dan menambahkan hal-hal." Ketika berbicara tentang remake video game, pasti ada tantangan untuk mempertahankan identitas dari apa yang menjadikan game asli sebagai klasik sambil juga memberikan inovasi dan fitur yang membuat remake terasa penting .
Mengikuti analisis [artikel saudara tentang strategi remake], di era 2024-2026, remake JRPG juga akan menyerang tantangan untuk mencari keseimbangan. FF VII Rebirth mendapat pujian dan kritik karena cerita dan perubahan naratif yang dilakukan. Tampaknya Persona 3 Reload juga menyerang nasib serupa karena dikenali dan dipuji karena berusaha mempertahankan asli tetapi mendapat kritik karena terlalu konservatif (tidak menyertakan jalur FemC). DQ III HD-2D Remake tampaknya telah menemukan jalan tengah. Memilih membangun dari nol. Masing-masing memiliki kekurangannya sendiri dan seperti yang dikatakan, "semangat asli tetapi tidak takut untuk berubah" harus menjadi standar yang harus diupayakan, bukan menjadi paranoid terhadap perubahan, tetapi juga tidak acuh terhadapnya.
Apa yang Bisa Diadopsi Berikutnya dari JRPG Action-RPG?
Mengingat analisis di atas, berikut beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk JRPG action-RPG yang akan datang (rumored Star Ocean 7, Tales of Whateverthenext, dan FF XVII yang akan datang di masa depan):
Dalam kedalaman pertempuran melalui timing: jadikan parry ritme sebagai keterampilan dasar dan kembangkan pelatihan untuk pemula yang mudah tetapi memiliki batas tinggi untuk veteran. Tales of Arise sudah siap, jadi cukup perluas sinkronisasi timing karakter multipel.
Penjelajahan yang bermakna secara lingkungan: jangan hanya menambahkan double-jump atau dash sebagai peningkatan — rancang lingkungan untuk hal ini sejak awal. Penjelajahan berskala mekanik menjadi tolok ukur oleh Xenoblade Chronicles X remaster 2026.
Ambisi dunia yang mulus: layar pemuatan harus minimal dan hanya untuk transisi sementara, cutscene yang penting untuk cerita. Untuk laptop kelas menengah, optimisasi waktu muat sangat penting bagi pemain Indonesia. Tales of Arise dan FF VII Rebirth menetapkan standar di sini.
Desain quest dengan banyak jalur: minimal 30% quest sampingan harus mencakup 2+ jalur resolusi. Daftar periksa penyelesaian quest sampingan sudah menjadi masa lalu, memberi penghargaan kepada kebebasan pemain. JRPG tingkat menengah (seri Atelier, NieR Replicant) memiliki banyak ruang untuk pertumbuhan di sini.
Kekhawatiran yang Sama: Dialog Keaslian dalam Reboot
Hayes Madsen memuji The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom tetapi memiliki beberapa kekhawatiran. Adegan baru dengan dialog baru terasa "terpisah" dari suara narasi asli. Ini adalah masalah yang umum dalam remake game. Pengisi suara baru, naskah tambahan, dan Dialog Modern semuanya bertentangan dengan nada asli.
Remake JRPG tidak terkecuali. Final Fantasy VII Rebirth dikritik karena adegan Yuffie yang baru ditambahkan dan terasa tidak sesuai dengan karakternya. Persona 3 Reload dipuji karena pengisian suara yang diremajakan dilakukan tetapi naskahnya 95% sama dan oleh karena itu risiko keaslian rendah. Dalam Remake Romancing SaGa 2, pengisian suara yang baru bertentangan dengan nada seri SaGa. Jika remake Anda akan menambahkan dialog baru, pelajarannya adalah menyewa penulis yang familiar dengan suara permainan asli, bukan hanya penulis game modern umum. Arahan suara harus konsisten dengan manual nada asli dan tidak dimodernisasi.
Strategi Bermain untuk Pengguna Indonesia
Urutan permainan yang dapat diikuti oleh pemain Indonesia untuk mencoba memahami mekanik konvergensi (dalam hal ini gabungan pendekatan aksi petualangan barat + pendekatan aksi JRPG) adalah sebagai berikut: (1) Tales of Arise (Rp 600.000 di Steam, diskon ~Rp 200.000) — titik awal untuk pertempuran RPG aksi berbasis irama + opsi UI Indonesia sehingga Anda dapat lebih memahami teks di menu. Spesifikasi sedang sudah cukup. (2) Star Ocean The Second Story R (Rp 700.000) — gabungan antara giliran dan lapisan aksi, persyaratan spesifikasi lebih ringan. (3) FF VII Rebirth (Rp 800.000 di PS5, atau tunggu Januari 2025 untuk versi PC) — puncak RPG aksi modern, berinvestasi 80-100 jam untuk arc utama. (4) Xenoblade Chronicles X Definitive Edition (jika dirilis tahun 2026) — RPG dunia terbuka paling ambisius, skala traversal mech yang tidak dapat ditandingi oleh AC Resynced. Untuk pemain mobile, Honkai Star Rail adalah game gacha giliran terbaik dengan kualitas konsol.
Konsep yang dijelaskan di sini juga berlaku untuk pemain Persona — untuk konteks bagaimana franchise Atlus telah mengembangkan komponen RPG aksi dari Persona 3 hingga Persona 5 Royal dengan peningkatan pertempuran tambahan.
Kesimpulan -- Konvergensi Genre adalah Masa Depan
Pratinjau Hayes Madsen tentang AC Black Flag Resynced bukan tentang nostalgia atau daftar remake; ini tentang konvergensi genre. Aksi petualangan Barat dan aksi-RPG JRPG semakin banyak saling meminjam satu sama lain: pertarungan irama, penjelajahan, dunia yang mulus, desain quest alternatif, dan sebagainya. Penyebaran ide yang silang ini menguntungkan bagi pemain yang menikmati keduanya. Bagi gamer Indonesia, tahun 2024-2026 adalah jendela emas untuk bermain game yang mematahkan genre. Gunakan harga yang wajar di Steam Indonesia, dan bermain melampaui kategori game tunggal.
