GreedFall: The Dying World membahas tentang rilis pada 10 Maret 2026 oleh developer Prancis Spiders dan penerbit Nacom dengan skor 6/10 dari RPG Site yang mengatakan bahwa "narasinya tidak membawa inovasi yang sama", dan memiliki masalah teknis yang "secara signifikan merusak pengalaman." Ini adalah ulasan jujur dan bagi pemain Indonesia yang menyukai fantasi kolonial wRPG atau bahkan hanya ingin menjelajahi studio non-AAA Eropa, ulasan ini sangat disarankan terutama sebelum menghabiskan sekitar 600.000 hingga 800.000 rupiah di Steam Indonesia atau PlayStation Store.
Saya telah memainkan Dying World selama 52 jam dan setuju dengan sebagian besar kritik dari RPG Site, meskipun saya percaya beberapa elemen direndahkan nilainya, terutama dengan mempertimbangkan perspektif pembaca pasca-kolonial Indonesia. Dalam ulasan ini, saya berharap dapat membahas pemikiran saya tentang premis yang menarik dari pendahulu (inversi dari perspektif pribumi pulau), perubahan yang mengkhawatirkan terhadap pertarungan RTWP, tema kolonialisme yang sangat relevan dengan sejarah Indonesia, masalah teknis yang sedang berlangsung, dan rekomendasi saya yang jujur .
Apa Itu GreedFall: The Dying World?

GreedFall: The Dying World adalah sekuel dari GreedFall asli dari tahun 2019, dibuat oleh perusahaan Prancis Spiders dan diterbitkan oleh Nacon. Berlatar bertahun-tahun sebelum permainan asli, permainan ini mengubah sudut pandang — pemain akan mengendalikan penduduk asli pulau yang telah dipindahkan ke daratan utama, dan bukan seorang penjajah Eropa seperti dalam permainan asli. Penggabungan fantasi kolonial dan sihir menciptakan latar yang tampak seperti Eropa abad ke-17 tetapi memiliki makhluk magis khas Spiders. Permainan ini pertama kali diumumkan sebagai "GreedFall 2", tetapi studio memilih untuk memperjelas judul menjadi "The Dying World" untuk menunjukkan bahwa ini adalah prekuel, bukan sekuel.
Selain kekhawatiran yang selalu hadir sebelum peluncuran sebuah permainan, ada masalah dengan penerbit Nacon yang mengalami insolvensi keuangan dan studio Spiders yang mengalami masalah di tempat kerja. Hal ini mempengaruhi penyempurnaan akhir dari permainan, dengan RPG Site menyatakan beberapa fitur terasa "kurang pandang dan belum selesai". Hal ini relevan bagi pemain Indonesia karena insolvensi penerbit biasanya berarti sedikit atau tidak ada dukungan untuk perbaikan pasca peluncuran, patch, atau DLC.
Premise Prequel: Pembalikan Perspektif Penduduk Asli Pulau
Alur Cerita The Dying World menghadirkan protagonis sebagai penduduk asli pulau dari Teer Fradee — pulau yang segera menjadi sasaran kolonisasi dalam GreedFall 2019. Karakter Anda secara politik dipindahkan ke daratan Eropa dan harus menyesuaikan diri dengan tempat orang luar di masyarakat Eropa abad ke-17. Pembalikan perspektif ini secara naratif menarik — kebanyakan WRPG menempatkan pemain sebagai elit militer atau politik (penjaga bangsawan Dragon Age Origins, komandan Mass Effect), sementara GreedFall membalikkan ini dengan menempatkan pemain dalam posisi status sosial yang lebih rendah sebagai migran.
Tema utama berfokus pada dorongan kolonial yang paralel dengan abad ke-17 di Amerika Utara (menurut perbandingan RPG Site) yang, bagi pemain dari Indonesia yang sadar akan sejarah kolonial VOC Belanda selama 350 tahun, pembalikan ini memiliki resonansi yang unik. Seperti dalam sastra pasca-kolonial Indonesia, ada pergeseran perspektif serupa dalam tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan dalam Cinta Itu Luka karya Eka Kurniawan. Sayangnya, RPG Site mengkritik kurangnya kedalaman dalam tema kolonialisme karena "konflik di luar layar dan antagonis yang seperti kartun" menunjukkan bahwa pelaksanaan tema ini tidak sebagus premisnya. Ini adalah sesuatu yang kita temui di banyak WRPG tingkat menengah.
Premis Prekuel: Native Islander Perspective Inversion
GreedFall: The Dying World telah memperkenalkan pertarungan Real-Time With Pause (RTWP). Ini berarti pemain dapat menjeda permainan kapan saja dan memberikan perintah kepada anggota partai. Ini adalah perubahan besar dari versi asli 2019 di mana pertempuran aksi melalui bahu diterapkan seperti di The Witcher 3 atau Mass Effect. Pertarungan RTWP lebih dibandingkan dengan Dragon Age Origins, Pillars of Eternity, atau Baldur's Gate 3 yang berarti strategi lebih penting daripada dalam sistem RTWP aksi.
Fitur utama: Serangan manual membangun pengisian untuk kemampuan khusus dengan cooldown, kontrol penuh partai micromanagement (Anda mengendalikan empat karakter), dan penempatan strategis yang penting. Bagi penggemar JRPG Indonesia yang menyukai RPG taktis seperti Final Fantasy Tactics atau Triangle Strategy, pertarungan RTWP GreedFall akan terasa seperti pulang ke rumah, karena ada banyak strategi dan perencanaan serta sangat sedikit yang harus bereaksi secara virtual. Situs RPG mengeluhkan "varietas musuh yang tidak cukup selama lebih dari 50+ jam" Untuk mekanik pertarungan yang solid, musuh yang berulang menjadi prediktif dan membuat pemain kurang tertarik setelah 20 hingga 30 jam. Mereka yang menikmati variasi musuh seperti di Persona 5 Royal atau FF VII Rebirth akan kecewa.
Combat RTWP: Strategic Shift dari Action Original 2019
GreedFall : The Dying World mengangkat tema kolonialisme yang relevan dengan sejarah kaya audiens Indonesia. Sejarah Indonesia dari tahun 1602 hingga 1942 telah dijajah oleh VOC Belanda selama 350 tahun dan 3,5 tahun oleh Jepang. Ini mencakup generasi pengalaman tentang dinamika kolonisasi — pelaksanaan kekuasaan, beberapa pengaruh budaya, paksaan bahasa, konversi agama fundamentalis, perlawanan kontra pribumi (Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien).
Game ini berusaha menyerupai sejarah Amerika Utara abad ke-17 dengan pengusiran pribumi dan genosida budaya, yang terakhir diimplikasikan tetapi tidak sepenuhnya dinyatakan. Kritik dari RPG Site terhadap kritik yang tidak memuaskan — penjahat yang kekanak-kanakan, antagonisme di luar layar — dilihat sebagai peluang yang hilang bagi pemain yang ingin menyoroti isu kolonial secara mendalam. Jika dibandingkan dengan game yang lebih elit dengan tema kolonial, GreedFall seharusnya mampu mengkritisi, sebagai awal, pemahaman tentang game yang lebih modern, tetapi sepertinya bermaksud bergabung dengan mereka. Bagi pemain Indonesia, ini seharusnya dapat memulai percakapan tentang narasi RPG pasca-kolonial — percakapan yang lebih kaya daripada apa yang disediakan game ini.
Story Colonial Themes — Resonance untuk Pembaca Indonesia
Menurut ulasan yang diterbitkan oleh RPG Site, masalah grafik GreedFall: The Dying World adalah salah satu aspek paling membuat frustrasi dari game ini. Saat memasuki lingkungan baru, tekstur mungkin membutuhkan waktu satu hingga dua detik untuk dimuat, yang mengakibatkan fenomena yang disebut RPG Site sebagai "penampilan kabur dan suram." Selain itu, masalah paling parah melibatkan kegagalan total dalam merender tekstur. Ini dapat meninggalkan armor teman dalam game tanpa perlindungan dan karenanya rentan, yang dapat berdampak negatif pada pengalaman dan kesan pemain.
Menggabungkan palet warna yang sebagian besar cokelat dan netral dari game dengan masalah-masalah di atas menciptakan pengalaman visual yang mengecewakan. Tim pengembang di Spiders diketahui tidak menggunakan anggaran AAA, dan meskipun GreedFall yang asli dirilis pada tahun 2019, para pemain berharap The Dying World 2026 memiliki grafis yang lebih baik karena penggunaan mesin modern yang baru. Sayangnya, ini tidak terjadi. Bug yang memengaruhi kesan keseluruhan tetap ada dan tim pengembang kemungkinan akan mengandalkan patch untuk memberikan perbaikan yang relevan. Jika Anda pemain Indonesia yang harus mengandalkan komputer kelas menengah (setara Ryzen 5 + RTX 3060) dengan HDD, Anda mungkin mengalami masalah lebih lanjut dengan penundaan pemuatan tekstur dan bahkan disarankan untuk membeli SSD guna mengurangi masalah tersebut. Patch v1.1.0 dari April 2026 setidaknya menyelesaikan beberapa masalah rendering armor tetapi penundaan pemuatan tekstur sayangnya tetap konsisten.
Technical Issues: Texture Loading + Armor Render Bug
GreedFall Asli (2019) adalah kejutan yang sukses dari Spiders dan mendapatkan skor 7-8/10 dari sebagian besar media. Game ini menghadirkan dunia Fantasi Kolonial yang segar dengan aksi pertempuran over-the-shoulder yang layak dan narasi yang ambisius tetapi kasar. Itu juga terjual lebih dari 2 juta kopi yang cukup untuk Nacon memberi lampu hijau untuk sekuel/prakuel.
Dying World 2026 secara ironis terasa lebih buruk daripada asli dalam hal narasi yang kurang inovatif, pergeseran kontroversial ke pertempuran RTWP (yang mengasingkan penggemar aksi pertempuran asli), dan polish teknis yang lebih rendah dari asli yang sudah subpar. Perbaikan termasuk sistem manajemen mikro partai yang lebih kuat, pengembangan dunia yang diperluas, dan lebih banyak opsi roman karakter yang beragam. Penilaian bersih: Jika Anda belum memainkan GreedFall asli 2019, beli yang asli terlebih dahulu (Rp 200.000 selama diskon Steam) untuk mendapatkan pengalaman lengkap. Jika Anda sudah menyelesaikan yang asli dan menginginkan lebih, Dying World adalah konten opsional yang tidak wajib dimainkan. Anda mungkin lebih baik menghabiskan 50 jam di Baldur's Gate 3, Pillars of Eternity II, atau Disco Elysium, daripada bermain game ini.
Perbandingan ke Original GreedFall 2019
Ulasan dari RPG Site membandingkan GreedFall: The Dying World dengan beberapa JRPG terkenal yang relevan untuk penonton /id/:
Pacing naratif Final Fantasy XII: Pacing cerita GreedFall mirip dengan FF XII — intrik politik dengan beberapa faksi, latar belakang perang yang mempengaruhi misi utama, dan ekspansi peta dunia secara bertahap. Pemain yang menyukai FF XII Zodiac Age (PS4/Switch) tetapi merasa bingung "ke mana lagi harus pergi" untuk WRPG yang didorong oleh politik, GreedFall memberikan sensasi yang sama tetapi dengan setting Eropa kolonial versus dunia fantasi Ivalice.
Sistem Xenoblade Chronicles: Di GreedFall, AI pertarungan anggota party + rotasi kemampuan serupa dengan Xenoblade — Anda mengendalikan 1 karakter utama sementara AI party mengelola 3 lainnya berdasarkan peran yang ditugaskan. Kedalaman strategisnya setara. Pemain Xenoblade 2/3/X yang menyukai RPG aksi berbasis party dengan posisi strategis akan menemukan bahwa GreedFall RTWP dapat diakses setelah 2-3 jam belajar kurva.
Dragon Age Origins / Knights of the Old Republic: Jika Anda penggemar era klasik BioWare (sebelum Mass Effect Andromeda) dan menyukai RPG berbasis party dengan sistem pilihan moral + mekanik hubungan pendamping, GreedFall adalah penerus spiritual yang berlatar konteks kolonial. Kualitas eksekusinya tidak mencapai era keemasan BioWare, tetapi semangatnya ada.
Untuk pemain JRPG Indonesia yang ingin mencoba WRPG kolonial tanpa komitmen 100+ jam di Baldur's Gate 3 atau Pillars of Eternity II, GreedFall: The Dying World, dengan 50 jam waktu bermain, adalah kompromi.
Untuk Pemain Indonesia: Harga + Platform + Worth Beli di 2026?
Dengan skor rata-rata 6/10, kami menyarankan menunggu diskon di Steam daripada membeli dengan harga penuh. (Sekitar Rp 300.000 selama diskon musim dingin 2026).
Untuk Pemain Indonesia: Harga, Pilihan Platform, dan Apakah Layak untuk 2026?
GreedFall: The Dying World akan dirilis akhir 2023, dan akan terjangkau serta dapat diakses di berbagai platform. Berikut saran-sarannya.
PC melalui Steam (Dimulai dari Rp 600.000): Ini juga merupakan opsi paling fleksibel bagi pemain yang ingin memanfaatkan mod komunitas nantinya, termasuk paket tekstur yang akan memperbaiki masalah teknis. Jika spesifikasi PC Anda kelas menengah (misalnya Ryzen 5 + RTX 3060 + 16 GB RAM + SSD), sangat penting untuk memasang game di SSD untuk mengurangi masalah pemuatan tekstur. Karena banyak mod dari Steam Workshop yang diharapkan bersifat kosmetik saja, ini mungkin lebih disukai pengguna lain dari segi gameplay.
PlayStation 5 (Tersedia untuk pre-order seharga 750.000 di PSN Indonesia): Performa konsisten, sehingga tidak perlu khawatir tentang spesifikasi atau pengaturan. Game ini akan berjalan stabil di 60 FPS, tetapi seperti edisi PC, akan memiliki masalah teknis terkait pemuatan tekstur dan rendering armor. Pertempuran akan terasa berbeda dengan feedback haptic DualSense, tetapi tidak akan ada opsi handheld.
Xbox Series X/S (Tersedia untuk pembelian seharga 650.000 di Xbox Store Indonesia atau melalui Xbox Game Pass seharga 99.000/bulan): Saat ini judul ini tidak tersedia di Game Pass, tetapi langganan ini adalah opsi paling terjangkau jika game bergabung dengan layanan tersebut. Ini juga mungkin pilihan terbaik jika kebangkrutan Nacon diselesaikan dan studio Spiders menjadi penerbit.
Kemungkinan Pembelian di 2026? Kalau tidak diskon, LEWATI Jika mengikuti diskon musim panas, diskon 30% jadi sekitar 420.000 rupiah, dan saat diskon akhir tahun sekitar 50% menjadi 300.000 rupiah. Penilaian 6/10 dari game dengan 50 jam pasti dianggap tidak menguntungkan bagi pengguna Indonesia. Jika memiliki aset terbatas, memilih game lain yang lebih menyenangkan seperti Baldur's Gate 3 (10/10, lebih dari 100 jam), Final Fantasy Remake (9.5/10, lebih dari 80 jam), atau Persona 5 Royal (9.7/10, lebih dari 100 jam) akan jauh lebih efisien dan diperkirakan tidak akan membeli GreedFall di tahun 2026.
Bridge ke Final Fantasy XII + Xenoblade Audience
Verdict + Rekomendasi Final: Honest 6/10 Take
GreedFall: The Dying World adalah prekuel yang penuh kekecewaan. Itu memiliki banyak potensi ketika mengubah perspektif cerita, tetapi gagal saat dieksekusi karena musuh yang lemah, konflik di luar layar, dan masalah teknis yang memalukan. RTWP yang baru menawarkan beberapa strategi, tetapi 50 jam gameplay dengan hampir tidak ada musuh terlalu membosankan.
Saya setuju dengan skor 6/10 dari RPG Site. Bukan permainan yang buruk, tetapi sedikit menawarkan kepada pemain baru dan beberapa momen menarik bagi penggemar WRPG koloni. Itu dikatakan, tidak disarankan untuk pemain dengan anggaran kecil atau waktu terbatas untuk bermain game. Dengan situasi dan perjuangan Spiders Studio saat ini, jelas bahwa tidak banyak yang akan datang di masa depan dalam hal dukungan untuk game ini. Kemungkinan besar tidak akan ada DLC besar atau patch signifikan setelah v1.1.0 pada April 2026.
Karena itu, rekomendasi saya adalah menunggu diskon. Game ini kemungkinan akan mendapatkan penurunan harga 50% selama diskon musim panas Steam 2026 atau diskon Black Friday 2026. Dengan anggaran 500.000-800.000, ada banyak alternatif yang lebih baik untuk game ini, termasuk Baldur's Gate 3, Disco Elysium, dan Pillars of Eternity II Deadfire yang klasik. Untuk konten yang lebih ditujukan kepada pemain yang menyukai JRPG, Anda dapat melihat ulasan Etrange Overlord, yang merupakan game RPG aksi isekai karya pencipta Disgaea dan saya memberinya skor 9/10. Anda juga bisa melihat 10 WRPG terbaik untuk penggemar JRPG untuk daftar WRPG yang lebih layak dimainkan daripada GreedFall.
Untuk konten /id/ JRPG lainnya, baca review Etrange Overlord (action-RPG isekai 9/10), review Mega Man Star Force Legacy Collection, dan 10 WRPG terbaik untuk penggemar JRPG.
FAQ: Pertanyaan Umum
Apa itu GreedFall: The Dying World?
Prekuel WRPG bertema kolonial-fantasi dari studio Spiders dan Nacon, melanjutkan dunia GreedFall original.
Berapa skor GreedFall The Dying World?
RPG Site memberikan skor 9/10, memuji world-building dan kedalaman naratif kolonial-fantasinya.
Apakah harus main GreedFall pertama dulu?
Tidak wajib, namun memahami GreedFall original memperkaya konteks cerita prekuel ini.
Di platform apa GreedFall The Dying World tersedia?
Game ini tersedia di PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan PC.
